Tikachu's Weblog

Just another WordPress.com weblog

BERPIKIR SUBYEKTIF ITU JUSTRU PERLU !!!

pada Februari 13, 2009

Seringkali kita dituntut untuk berpikir obyektif ketika sedang berusaha untuk menentukan solusi. Sebagian besar orang berpendapat bahwa seorang pemegang keputusan harus berpandangan obyektif saat memutuskan sesuatu. Obyektif yang dimaksud adalah mempertimbangkan seluruh aspek, baik dari kondisi internal maupun eksternal, baik kondisi terbaik maupun terburuk, baik aspek pegawai maupun stakeholder, dan sebagainya. Awalnya, saya pun berpendapat demikian, tapi akhirnya mindset saya sedikit berubah.

Pola pikir ini saya dapatkan ketika kuliah di semester 8 Teknik Industri ITB. Tema kuliahnya ada tentang pemodelan sistem. Seorang dosen senior menerangkan tentang makna helicopter view, salah satu keahlian yang menjadi ciri khas dari seorang insinyur Teknik Industri. Helicopter view merupakan istilah yang merepresentasikan tentang cara melihat suatu masalah dari berbagai aspek, sehingga dapat menghasilkan keputusan terbaik dan menyelesaikan masalah yang ditinjau dari aspek-aspek tersebut. Ternyata penjelasan beliau saat itu belum usai (atau memang saya tidak menangkap seluruh maksudnya). Setelah saya melanjutkan program magister di jurusan yang sama, saya baru mengetahui bahwa ketika memutuskan sesuatu, justru yang diperlukan adalah berpikir subyektif, bukan obyektif. That’s why I love Industrial Engineering very much. Selalu ada hal-hal baru, yang kontra dengan pernyataan umum kebanyakan. Saya cukup kaget waktu mendapatkan materi itu, tapi setelah dipikir-pikir …. benar juga ..

Proses pengambilan keputusan terdiri atas beberapa tahap : tahap konvergen, analitik, dan divergen. Tahap konvergen adalah tahap pengumpulan data sebanyak-banyaknya. Tentunya, data dan opini atau ide yang dikumpulkan adalah yang berhubungan dengan masalah yang ingin dipecahkan. Pada tahap ini, berpikir obyektif menjadi suatu keharusan. Kita harus mampu memandang dari seluruh aspek, dan mendokumentasikan semua kemungkinan data yang dapat menjadi solusi akhir. Pada tahap ini, muncul keahlian seorang insinyur TI, yaitu system thinking alias berpikir sistem. System thinking adalah memandang permasalahan sistem dari berbagai sudut pandang yang berkaitan dengan sistem tersebut. Hal penting yang harus diperhatikan dalam tahap ini adalah masalah waktu. Biasanya, karena keasyikan mengumpulkan data, peneliti atau observer terlalu semangat sehingga lupa akan waktu yang tersisa. Padahal, keputusan harus segera dibuat.

Tahap berikutnya adalah tahap analitik, yaitu tahap menganalisis dan memilah-milah data/opini/ide yang dapat dijadikan sebagai alternatif untuk solusi akhir. Pada tahap ini diperlukan keahlian systemic thinking. Tahap terakhir adalah tahap divergen, yang memerlukan keahlian systematic thinking. Pada tahap akhir inilah, berpikir subyektif menjadi suatu keharusan, dan bukan lagi berpikir obyektif. Subyektif yang dimaksud adalah mengikutsertakan judgement si pengambil keputusan. Disinilah letak art dari sebuah kasus pengambilan keputusan. Bila pada tahap akhir si pengambil keputusan masih berpikir obyektif, tentunya masalah yang ada tidak akan selesai-selesai. Jadi, jangan takur berpikir subyektif, karena hal tersebut justru diperlukan !! Tapi, tentunya pada situasi yang relevan.


6 responses to “BERPIKIR SUBYEKTIF ITU JUSTRU PERLU !!!

  1. bobby86 mengatakan:

    ASw

    Mau numpang lewat teh…

    Ilmu itu ibarat pisau…

    Tergantung siapa yang memegang pisau tersebut…

    Seperti kata seorang ahli siasat perang

    “yang abadi itu adalah kepentingan…”

    Termasuk kepentingan manusia…

    nyambung ga ya?…hehe

  2. nursatwika mengatakan:

    proses yang benar2 memerlukan kebijakan dalam mengambil keputusan saat S1, menurut aku saat mengerjakan Tugas Akhir…bener ga tik?

    soalnya, aku ngerasa ternyata kebijakan kita berpengaruh sekali ke lama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikannya.

    makasih sudah mengingatkan…:)

  3. tikachu mengatakan:

    Jujur bobby … saya bingung nyambungnya dimana yah ?!! tapi syukran dah ngasih kata-kata bijak baru. Jadi, ngingetin saya lagi

  4. tikachu mengatakan:

    hehe … iya banget reni. Tulisan ini memang sengaja dibuat tuk ngingetin reni ^^ wakakakak …. enggak denk. Terinspirasi aja ama kepiawaian bu lucia dalam menyampaikan kuliah. Tika jadi makin cinta ama TI …. hidup TI

  5. Maximillian mengatakan:

    Tika, sudah baca latar belakang kasus Enron dan WorldCom ? Dibandingkan dengan kasus Watergate misalnya, kasus kedua perusahaan ini, yang melibatkan Arthur Andersen, sebenarnya perlu pengecualian, sebelum tergesa dikategorikan sebagai “corporate crime”. Saya cenderung lebih memasukkan ke “a loss speculation”.

    Data mereka keuangan mereka luar biasa, diringkas pun masih ke angka 2000-an halaman. Sederhananya, mereka menggunakan mekanisme “ijon”, kalau di transaksi tradisional kita. Yang sebuah produk punya “potensi” profit besar, namun dalam jangka waktu tertentu, profit tersebut bisa diklaim. Permasalahannya, adalah, ketika itu sudah menyangkut “nilai” sebuah perusahaan, di mata para pemegang saham, di pasar saham, dimana spekulasi menjadi strategi yang seringkali blunder.

    Ketika petugas pajak AS ( yah, Tika sendiri pahamlah, bagaimana tingkat ke”sangar”an mereka di mata pelaku bisnis di AS), menemukan bahwa ada ketidaksesuaian antara nilai kekayaan perusahaan saat ini, dengan nilai perusahaan di pasar saham, sederhananya seperti itulah. Karena memang nilai perusahaan di pasar saham dipengaruhi oleh potensi pertumbuhannya ( growth), jadinya Arthur Andersen kena deh….

    Agak berposisi diametral dengan argumen Tika di atas, pola kognitif yang dituliskan, semakin menunjukkan bahwa apa yang dikatakan “obyektif” dalam sudut pandang ( ontologi) tertentu, bisa disebut sebagai “subyektif”. Contohnya adalah : Warna. Bagi manusia yang hidup di daerah tropis, warna putih itu absolut, namun bagi manusia yang hidup di eskimo, warna putih bisa dibedakan menjadi 103 spektrum yang bisa dibedakan, proses evolusi membentuk mereka untuk membedakan spektrum warna putih, untuk beradaptasi dengan habitatnya.

    Sudut pandang ( ontologi) manusia, dipengaruhi oleh medan pengalaman ( Field of Experience ) dan ruang referensi ( Frame of Reference), yang “membentuk” manusia tersebut, hingga detik dia mengeluarkan sebuah argumen.

    Eh, suka nonton sinetron Hollywood Lie To Me ? Atau sudah mengonsumsi tetralogi Gladwell ( Blink, Tipping Point, Outliers, What The Dog Saw) ? Kalau sudah, pendapat saya ini, dipengaruhi oleh pengalaman saya, dan referensi di atas.

    Ya, begitulah🙂

    Blog dan tulisannya bagus, just keep cool Ma’am ( Mampir nih)

  6. Maximillian mengatakan:

    Halah, banyak typonya di atas, sorry😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: