INTEGRATED MARKETING COMMUNICATION DESIGN FOR XA COSMETICS BASED ON ANALYSIS OF SEGMENTING, TARGETING, AND POSITIONING IN BANDUNG

Maret 2, 2009 oleh tikachu

ABSTRACT
The objective of marketing is recognizing product offered to customer. A producer must encode message about the product offered effectively because it will influence the effort in reaching objective of marketing itself. In other words, a producer must do marketing communication, which can be defined as means which is used by organization to inform, persuade, and remind customer (directly or indirectly) about the product offered (Kotler & Keller, 2007b). Strategy of integrated marketing communcation has close relationship with segmenting, targeting, and positioning.

PT. X is one of industries which has core business in cosmetics. They produced few brands of cosmetics, such as XA and XB. Marketing communication activities of this company in promoting XA are through cosmetic agents, over-the-counter, and special cosmetic shop in traditional market. Now, they are performing highly to participate in public relation activities, especially music contests and seminar.

Selling level of XA in Bandung hasn’t reached target which is wanted by PT. X marketing team. They think it is caused by performance of marketing communication that hasn’t showed maximum effort. Besides, there are other brands that have same target market with XA (women, 25-45 years old). PT. X has ever done customer social responsibility, but it was just a form of commitment and it hasn’t been integrated with marketing activities and public relation. Marketing team hasn’t done a detail research to measure brand value or effectiveness of XA marketing communcation in all selling areas.

This research has purposes to analyze cosmetic market segments and identify positioning of XA among its competitors. At the end of research, it will be designed integrated marketing communication which can be a consideration for PT. X in evaluating or even changing their marketing programmes.

First step in this research is identifying factors that influence preference of customer in choosing a cosmetic. This step will adopt marketing mix as the identification tool. Second step is identifying cosmetic market segments by using SPSS 12.0, which consists of hierarchical and non-hierarchical clustering. Profile each segment is identified with benefit segmentation method. Thurstone Case V algorithm is used in this third step. Then, perceptual map is made to see position of XA in customer’s mind and among its competitors. Three tools in NEWMDSX are used for these purposes. They are HICLUS, MRSCAL, and PROFIT. Last step is measuring the performance of XA marketing communcation tools by using Importance and Performance Analysis Matrices. All data outputs from those steps will be used in designing recommendation of XA’s integrated marketing communcation.

From data processing, it is showed that product quality is the most significant factor in influencing customer’s preference when they choose cosmetic. Respectively, the significant factors are price, promotion, place/distribution channel, physical evidence, people, and process. Latest is the most unsignificant factor. Judgement for those factors are different in each segment. Data processing also shows information about quantity of segments. They are four segments formed with special characteristics. First segment has low attention in cosmetic needs. Second segment has a big size in membership, easy to be influenced by promotion, and has low loyalty. Third segment has high attention in cosmetic needs, but they are not easy to be influenced by promotion. Last, fourth segment has high loyalty to XA, small size in membership, and can not be influenced by promotion easily.
In customer’s mind, XA has a good performance in product quality, serving process, and people; but low performance in price, place/channel distribution, physical evidence, and promotion. XA has two main competitors : C and D. Based on customers’ perception, Wardah is different from E and F. XA is recommended to be promoted thourgh two channels : catalogs and beauty consultation facility. Customers also recommend XA to be promoted through advertisement in electronic channel or mass media because these two channels have high effect in driving preference of customer when they choose cosmetics.

From analyze and data interpretation, integrated marketing communication for XA is designed. There are three main steps : evaluation of segmenting, targeting, and positioning compatibility; choosing content and resources of message; and choosing marketing communication channels.

Keywords : segmenting, targeting, positioning, integrated marketing communication, cosmetics.

A PICTURE WORTHS A THOUSAND WORDS AND A WORD WORTHS A THOUSAND EXPERIENCES

Februari 23, 2009 oleh tikachu

Baru dapat pencerahan aja dari dosen di kuliah metodologi penelitian tadi pagi. Ternyata di latar belakang penelitian kalo bisa ada tabel atau gambar karena gambar itu menunjukkan 1000 kata. Nah … nyambung ama apa yang disampaikan oleh pak hernowo kalo satu kata itu melambangkan ribuan pengalaman. Intinya ? Ilmu itu ibarat kilat, dan tulisan itu adalah salah satu jaring untuk menangkapnya. Jangan berhenti nulis … although ga ada ide segar yang sedang melintas di otakmu ,…. yayaya …

BERPIKIR SUBYEKTIF ITU JUSTRU PERLU !!!

Februari 13, 2009 oleh tikachu

Seringkali kita dituntut untuk berpikir obyektif ketika sedang berusaha untuk menentukan solusi. Sebagian besar orang berpendapat bahwa seorang pemegang keputusan harus berpandangan obyektif saat memutuskan sesuatu. Obyektif yang dimaksud adalah mempertimbangkan seluruh aspek, baik dari kondisi internal maupun eksternal, baik kondisi terbaik maupun terburuk, baik aspek pegawai maupun stakeholder, dan sebagainya. Awalnya, saya pun berpendapat demikian, tapi akhirnya mindset saya sedikit berubah.

Pola pikir ini saya dapatkan ketika kuliah di semester 8 Teknik Industri ITB. Tema kuliahnya ada tentang pemodelan sistem. Seorang dosen senior menerangkan tentang makna helicopter view, salah satu keahlian yang menjadi ciri khas dari seorang insinyur Teknik Industri. Helicopter view merupakan istilah yang merepresentasikan tentang cara melihat suatu masalah dari berbagai aspek, sehingga dapat menghasilkan keputusan terbaik dan menyelesaikan masalah yang ditinjau dari aspek-aspek tersebut. Ternyata penjelasan beliau saat itu belum usai (atau memang saya tidak menangkap seluruh maksudnya). Setelah saya melanjutkan program magister di jurusan yang sama, saya baru mengetahui bahwa ketika memutuskan sesuatu, justru yang diperlukan adalah berpikir subyektif, bukan obyektif. That’s why I love Industrial Engineering very much. Selalu ada hal-hal baru, yang kontra dengan pernyataan umum kebanyakan. Saya cukup kaget waktu mendapatkan materi itu, tapi setelah dipikir-pikir …. benar juga ..

Proses pengambilan keputusan terdiri atas beberapa tahap : tahap konvergen, analitik, dan divergen. Tahap konvergen adalah tahap pengumpulan data sebanyak-banyaknya. Tentunya, data dan opini atau ide yang dikumpulkan adalah yang berhubungan dengan masalah yang ingin dipecahkan. Pada tahap ini, berpikir obyektif menjadi suatu keharusan. Kita harus mampu memandang dari seluruh aspek, dan mendokumentasikan semua kemungkinan data yang dapat menjadi solusi akhir. Pada tahap ini, muncul keahlian seorang insinyur TI, yaitu system thinking alias berpikir sistem. System thinking adalah memandang permasalahan sistem dari berbagai sudut pandang yang berkaitan dengan sistem tersebut. Hal penting yang harus diperhatikan dalam tahap ini adalah masalah waktu. Biasanya, karena keasyikan mengumpulkan data, peneliti atau observer terlalu semangat sehingga lupa akan waktu yang tersisa. Padahal, keputusan harus segera dibuat.

Tahap berikutnya adalah tahap analitik, yaitu tahap menganalisis dan memilah-milah data/opini/ide yang dapat dijadikan sebagai alternatif untuk solusi akhir. Pada tahap ini diperlukan keahlian systemic thinking. Tahap terakhir adalah tahap divergen, yang memerlukan keahlian systematic thinking. Pada tahap akhir inilah, berpikir subyektif menjadi suatu keharusan, dan bukan lagi berpikir obyektif. Subyektif yang dimaksud adalah mengikutsertakan judgement si pengambil keputusan. Disinilah letak art dari sebuah kasus pengambilan keputusan. Bila pada tahap akhir si pengambil keputusan masih berpikir obyektif, tentunya masalah yang ada tidak akan selesai-selesai. Jadi, jangan takur berpikir subyektif, karena hal tersebut justru diperlukan !! Tapi, tentunya pada situasi yang relevan.

MUDAH MARAHKAH SAYA ?

Februari 13, 2009 oleh tikachu

Hari ini unik banget. Selama seharian kemarin, beberapa kejadian ngebuat saya sangat jengkel, sampai akhirnya saya (dengan sangat menyesal) harus marah. Kemarahan itu saya luapkan lewat SMS. Hmmm …. Saking marahnya, saya ampe nangis LI hate it.

Pagi-pagi, enaknya nonton reportase pagi sambil ngopi, I think. Sip, kebetulan dah lama gak nonton acara renungan pagi di Trans TV. Dan apa yang kutemukan … ternyata tausiyahnya tentang “JANGAN MARAH”. Wow … pas banget. Mengingat kemarahanku belum ilang. Di acara itu, ditunjukkan berbagai hadits tentang larangan untuk marah yang berlebihan. Terus, tips-tips buat ngilangin rasa marah, yaitu dengan cara berwudhu dan berdzikir. Saya istighfar …

Akhirnya selama seharian itu, saya azamkan untuk memaafkan dan meminta maaf kepada pihak-pihak terkait yang dah ngebuat saya marah atau saya buat marah. Dan saya baru nyadar … ternyata saya susah memaafkan. Astaghfirullah. Minta maaf itu ternyata jauh lebih mudah buat saya, daripada memberi maaf (melankolis banget ga sih ?). Mudah marahkah saya ? Atau memang kesalahan itu terlalu besar dan nyakitin hati, sampe saya merasa sulit memaafkan. Aarrghhh …

Buat siapapun yang ngebaca note ini, saya sarankan untuk tidak menggunakan rasa marah sebagai senjata untuk membuat sesuatu atau seseorang berubah. Tau kenapa ? Kita yang cape sendiri ternyata. Kesal sesaat boleh, tapi kemudian kita harus berusaha untuk membuka ruang komunikasi supaya duduk permasalahannya jelas. Yang kedua, belajarlah untuk meminta maaf dan memaafkan secara seimbang. Kedua hal itu adalah hal yang sama-sama penting. Insya Allah kita sama-sama belajar. Hmmm ….

Bumi Allah, 16 Safar 1430 H

HATI-HATI DENGAN HATI

Februari 13, 2009 oleh tikachu

Penyakit saya lagi kumat hari ini. Moody …. Alias perasaan yang gak nentu. Dan rasa negatif itu lagi hinggap di hati saya. Aarrghhhh … kesel, sebel, campur aduk semuanya. Biasanya kalo udah kaya gini, ujung-ujungnya bakal ada yang gak beres. Mungkin karena kemaren sakit perut terus juga kali yah. Jadinya semua aktivitas gak berjalan dengan maksimal. Ada agenda penting banget hari ini dan akhirnya gak jadi diikutin.

Pas nulis artikel ini, saya sadar ada sesuatu dengan hati saya … makanya penyakit saya ga cepat terdeteksi dan ditanggapi sesegera mungkin. Jujur, amalan yaumiyan saya sedang turun akhir-akhir ini soalnya saya terlalu disibukkan oleh hal-hal gak penting, alias duniawi yang memakan porsi lebih besar dibandingkan kebutuhan ruhiy saya. Alhasil, penyakit hati itu (moody) muncul seketika dan datang di saat yang tepat, yaitu saat saya sedang sakit (diare), saat ketika badan saya lemes dan males ngapa-ngapain.

Hati-hati dengan “hati”, dia bisa menjadi pembunuh ampuh saat kita sedang lalai. Makanya Allah minta kita untuk berdzikir pagi dan petang (disebutin di beberapa ayat Al-Qur’an), karena memang Allah tahu bahwa hati ada sasaran empuk buat musuh-musuh manusia untuk ngelemahin manusia. Tips buat orang melankolis dan moody, sibukkan hati dengan porsi yang seimbang antara kebutuhan dunia dan akhirat. Tapi ada satu kata kunci sukses yang menjembatani keduanya, laksanakan semua kesibukan itu dengan penuh kecintaan dan harap akan ridho Allah. Futur itu wajar kok, wong Rasulullah juga pernah merasa demikian. Tapi ga wajar kalo dan berulang kali terjadi dan kita gak tanggap buat mengobatinya.

Ayo tika …. Kudu lebih baik !!! Masa depan cerah menanti … umat menanti …

Bumi Allah, 12 Safar 1430 H

MENEMUKAN JATI DIRI TERBAIK ( BAGIAN II) : LANGKAH BESAR ITU DIMULAI DARI SATU LANGKAH KECIL YANG TERENCANA

Februari 5, 2009 oleh tikachu

Saya teringat pembicaraan saya pada tengah tahun 2008 dengan salah seorang pengusaha muda sukses di mata saya . Tria namanya. Mahasiswa semester 6 di jurusan Teknik Kimia itu bercerita dengan penuh antusias tentang pengalaman jatuh bangunnya dalam dunia wirausaha. Saya yakin setiap orang akan tercengang ketika mengetahui bahwa ia pernah berpenghasilan hampir 500 juta rupiah dalam waktu satu bulan. I just can say, “ What did you do?”. Percaya ga percaya, usahanya dimulai dari berjualan donat di SMU dulu. Kemudian ia lanjutkan dengan menjadi guru privat untuk persiapan USM ITB, dengan jam kerja dari jam 6 pagi sampai jam dua malam, non-stop! Believe it or not, it happened. Dia tidur dia atas motornya, hanya dua jam dalam sehari. Semuanya itu dia lakukan untuk mengumpulkan modal usaha. Pada akhirnya, usaha Tria ga sia-sia. Dia mulai merintis karirnya menjadi pengusaha yang menyewakan LCD projector di berbagai tempat, bahkan di universitas ternama kota Bandung sekalipun. Bahkan, Tria pun pernah ikut terjun dalam bisnis transportasi batu bara negara, dari Kalimantan ke Pulau Jawa, dimana dia mendulang ratusan juta rupiah dari bisnis ini. Hmmm …

“Kata kuncinya cuma satu, tik. Gua inget banget ayat dalam Al-Qur’an, apabila kamu sudah menyelesaikan satu pekerjaan, maka beralihlah ke pekerjaan yang laen,” kata Tria. FOKUS !! Yah, itu intinya. Tapi fokus adalah langkah berikutnya setelah adanya perencanaan yang matang. Tria sudah mendesain rencana hidupnya sebagai seorang pengusaha. Seorang trainer ITB pernah memberi tahu saya satu kunci kesuksesan hidup dunia. Beliau meminta saya untuk memilih, antara jam dan kompas. Jam analog dengan keteraturan, dan sebaliknya kompas analog dengan arah. “Bagusnya sih, jam yang ada kompasnya …” . Yah, iyalah. Satu pelajaran besar yang berharga dari jam kompas tersebut, bahwa kita harus memiliki aksi yang terarah dan teratur. Arah tanpa keteraturan sama dengan membuang waktu dan teratur tanpa memiliki arahan adalah sia-sia.

Langkah besar itu dimulai dari suatu langkah kecil yang terencana. Hidup ini menawarkan banyak pilihan menggiurkan, yang justru dapat “membunuh” kita secara perlahan saat kita tidak bisa merencanakan pilihan-pilihan tersebut dengan bijak dan sadar. Bagaimana cara kita menentukan langkah besar mana yang kita pilih ? Simple answer. Kita ingin dikenang sebagai orang yang seperti apa saat kita meninggal kelak. Kalau saya, saya ingin dikenal sebagai orang yang berkontribusi dalam perbaikan berkelanjutan dalam bidang pendidikan dan kemuslimahan. Dari cita-cita besar inilah, akhirnya saya mendeklarasikan dan meniatkan diri untuk menjadi Menteri Pendidikan Nasional Indonesia (aamiinn ..). Atau minimal menjadi dosen dan memiliki yayasan pendidikan sendiri yang mampu memberikan layanan pendidikan gratis untuk berbagai wilayah di Indonesia. Pada akhirnya, saya memilih untuk lulus S2 dan apply S3 sesegera mungkin. Semuanya harus terencana, sehingga walaupun kita melihat teman atau keluarga kita memiliki karir yang sukses dengan gaji besar di bidang pilihannya, kita tidak akan mudah tergiur dan akhirnya membelot pindah jalur dalam waktu singkat. Jadi, mulai rencanakan masa depanmu dari sekarang. Tentuin visi hidup kamu, dan lewat jalur mana kamu ingin meraih visi itu. Terakhir, mengutip kata Aa Gym, “ Mulai dari saat ini …” .

MEMBENTUK JATI DIRI TERBAIK ( BAGIAN I) : BERPIKIR HEBAT UNTUK MENJADI ORANG HEBAT

Januari 28, 2009 oleh tikachu

Perenungan ini sudah saya mulai sejak saya Kerja Praktek di salah satu perusahaan kosmetik ternama di daerah Tangerang. Disana, selama sekitar 40 hari, saya dan empat orang teman saya “ditempa” untuk memahami cara-cara menjadi orang sukses. Tidak hanya itu, kami pun diberikan ilmu tentang cara-cara membuat sebuah organisasi/perusahaan menjadi sukses. Satu hal yang sulit saya percayai pada awalnya, perusahaan tempat saya magang tersebut ternyata dimulai dari mimpi kecil sang Direktur. Mimpinya tidak muluk-muluk, yaitu hanya ingin membuat sampo yang diracik dari resep sendiri. Itupun untuk digunakan di kalangan keluarga saja. Akan tetapi, apa yang terjadi ? Mimpi itu saat ini sudah berubah wujud menjadi perusahaan raksasa yang produknya sudah terkenal sampai ke mancanegara. Apa yang membuat Direktur tersebut bisa mewujudkan mimpinya ?

Saya belum mendapatkan jawaban yang tepat, sampai anak sang Direktur memberikan pelajaran berharga bagi kami. “Baca deh, simple tapi ngena,” ujar beliau sambil memberikan sebuah buku bersampul merah tua kepada kami. Sekilas, judul buku tersebut terasa ambigu. DARI BAIK MENJADI HEBAT, terjemahan buku GOOD TO GREAT. Hmmm … mungkin rahasia sukses sang Direktur ada di buku ini. Saya secara rutin membaca buku tersebut, dan wow !! kisah-kisah spektakuler yang selama ini tidak saya sangka, ternyata ada di buku tersebut. Setelah membaca buku tersebut, saya jadi ingat kepada beberapa kisah sukses kontemporer dan aktual. Presiden Amerika Serikat terpilih, misalnya, yang ketika duduk di bangku sekolah dasar selalu melontarkan satu jawaban ketika ditanya tentang cita-cita oleh guru, teman, dan keluarganya. “Saya ingin jadi Presiden”. Adapula Andrea Hirata dengan kisah Laskar Pelangi dan buku-buku lainnya yang sangat menginspirasi kehidupan. Atau Asma Nadia, yang pernah berbagi cerita secara langsung dengan saya tentang kisah sahabatnya yang tidak pernah putus asa ketika mengirimkan tulisan ke sebuah majalah muslimah. Tulisan sahabat beliau ditolak sebanyak 25 kali berturut-turut oleh redaksi majalah tersebut, dan baru dimuat pada kali ke-26. “Kalau dia menyerah pada kiriman yang ke-26, tentu dia akan gagal,” Asma Nadia berujar. Dari beliau, saya mendapat pelajaran bahwa kesuksesan itu memiliki rumusan kegagalan plus satu.

Saya pun memiliki beberapa orang teman yang sudah terbilang cukup sukses dalam meraih cita-citanya. Sebutlah Zikril Hakim, mahasiswa teladan FTI ITB, yang kini bekerja di Accenture dan berada di posisi konsultan junior yang diperhitungkan, hanya dalam waktu kurang dari satu tahun. Fajrin Rasyid, mahasiswa teladan ITB, yang kini tinggal di Korea. Masih banyak lagi kisah-kisah kehidupan yang menginspirasi. Bahkan, para alumni ITB angkatan 70-an membuat blog khusus yang memuat kisah-kisah sukses mereka. Sungguh menginspirasi !!

Dari keseluruhan paparan tersebut, ada satu benang merah yang bisa ditarik, yang merupakan kunci sukses dalam membangun kehidupan. POLA PIKIR !! Ya, itu kata kuncinya. Perilaku seseorang disetir oleh pola pikirnya, dan tidak berlaku sebaliknya. Saat kita ingin menjadi orang hebat, berpikirlah bahwa kita adalah orang hebat. Kita memiliki potensi-potensi dan mampu mengasah potensi-potensi tersebut untuk mewujudkan rumah mimpi yang pernah kita bayangkan. Langkah besar dimulai dengan sebuah langkah kecil, dan langkah kecil menuju kesuksesan yang besar adalah dengan menge-set pola pikir kita. Jadi, tunggu apa lagi ?!! Jatah usia kita tidak banyak, sehingga sangat rugi bila kita tidak menorehkan sesetes pun dari tinta emas kehidupan. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi “orang hebat” versi masing-masing, tergantung dari mimpi apa yang ingin kita bangun . Selamat berkarya, dan nantikan tulisan hebat berikutnya .. KA – 28 Januari 2009

KADO SPESIAL BUAT AKHAWAT : TAU GA ? AKU “GA BOLEH” MENIKAH !!

Oktober 12, 2008 oleh tikachu

“Pokonya ummi ga akan dateng ke nikahan kamu kalo kamu ngotot terus !!”.

Aku nangis. Ga berhenti … walau kakak dah coba buat ngelurusin apa yang aku maksud.

“Kamu ngerti donk. Ummi ga setuju kalo kamu harus nikah sekarang-sekarang ini !”, “Ampe kapan ade harus ngerti ?! Syarat apa lagi yang ummi mau ? Apa masih kurang ade kuliah plus kerja dan udah bisa ngasih duit buat keluarga ?”.

Aku makin nangis, udah ga bisa ngomong apa-apa lagi ….

Subhanallah …. Memang betul apa yang dibilang ama temen-temen, waktu mereka berusaha bilang ke ummi dan abinya tentang itikad baiknya untuk menyempurnakan setengah agama. Setauku, Islam mempermudah proses pernikahan dan justru mempersulit proses thalaq. Saat ada muslimah yang sudah merasa siap untuk menikah maka dianjurkan agar ia segera dinikahi, dan bahkan hukumnya bisa menjadi wajib, alias dosa kalo ga dilaksanain.

Aku berusaha paham tentang “sifat keras” ummiku yang masih ngelarang aku buat nikah. Rasanya, tiga tahun bukan waktu yang sebentar buat berusaha ngobrol ke ummi kalo aku ngerasa butuh nikah saat ini. Waktu tingkat dua, ummi ngasih syarat aku lulus S1 dengan predikat cumlaude, baru boleh nikah. Well … oke … berarti itu dua tahun lagi. Waktu aku tingkat empat, aku berusaha membuka wacana lagi tentang rencana pernikahanku ke ummi. Coz murabbiyah juga sudah nanya berkali-kali, kapan aku ngikutin jejak temen-temen yang lain, alias nikah cepat. Dan … ternyata syarat itu bertambah !! Selain lulus S1, aku harus udah kerja dulu dan calonku (siapapun dia) harus sudah kerja juga. Loh ?! Berhubung waktu itu PLO dengan tugasnya yang seabreg banget, aku urungin niatku untuk ngobrol lebih lanjut ke ummi.

Saat yang dinanti tiba, aku dah lulus (ckckckck …) dan tinggal nunggu wisuda. Lagi-lagi murabbiyahku nanya, kapan nikah ? tapi, lagi-lagi juga aku belum bisa jawab.

Sekarang aku dah kerja, dengan gaji cukup lumayan untuk seorang freshgraduate. Alhamdulillah, aku juga keterima di program magister Teknik dan Manajemen Industri ITB, hanya selang beberapa hari setelah lulus S1. Rezeki berikutnya juga langsung ngalir. Aku dapet voucher beasiswa S2 senilai 30,8 juta. Maha Suci Allah. So … artinya, buat kuliah ga perlu repot lagi buat mikirin dari mana uangnya. That’s enough for now … cukup lengkap rasanya buat modal nikah and ngomong lagi ke ummi.

Buat kesekian kalinya, ummi masih ngelarang aku nikah, dengan alasan aku belum lulus S2. Loh, kok syaratnya nambah terus ya ? Secara aku pengen jadi dosen, yang sebaiknya S3 juga, jangan-jangan baru boleh nikah setelah S3 ? Walah …. bisa-bisa 30 tahunan donk L.

Ok, aku ngalah. Mungkin waktunya memang belum pas. Jalanin dulu deh semester ini sekalian ngebuktiin ke ummi kalo aku memang sudah siap untuk nikah. Dua bulan berlalu. Semua aktivitas dijalani dengan sebaik mungkin, kuliah and kerja. Dan tiba-tiba ….obrolan itu muncul lagi. Padahal ga aku rencanain sebelumnya. Tapi, hasilnya tetap sama, aku “ga boleh” nikah dalam waktu dekat (tahun 2008). Aku berusaha buat lebih paham, kenapa ummi masih sekeras itu. Alhamdulillah, aku sadar …

Untuk para saudariku yang ingin menikah … ada beberapa ibrah yang bisa dipetik dari sepenggal kisah di atas :

· Untuk apa aku menikah ?

Aku coba muter otak. Kenapa sih tika, kamu kepengen segera nikah ? Jujur ama diri sendiri ! Gotcha .. ok, aku pengen nikah mungkin belum karena 100% ikhlas pengen nyari ridha Allah, tapi masih ada embel-embel lain, seperti : temen-temenku (temen liqa, GAMAIS, TI, dkk) dah pada nikah, masa aku belum ? Mana ada yang dah punya bayi pula J. Trus … di TI2004 lumayan santer beredar info kalo aku akan menjadi orang berikutnya yang menyempurnakan setengah agama (bukan Geer, tapi fakta). Aku seneng, skaligus terbebani. Temen2 begitu khusnuzon dan mendorong aku buat cepet nikah, tapi da faktanya … aku belum boleh nikah. Dan embel2 lain yang ga bisa kutulis disini, karena sifatnya privasi.

Tapi, sebenernya buat apa aku nikah ? Nikah bukan berarti harus punya gaji 20 juta dulu, punya mobil dan rumah sendiri, pekerjaan mapan, karir menanjak … ahh … semua itu relatif. Aku sadar, nikah itu untuk menggabungkan dua kekuatan besar (si ikhwan dan si akhawat) sehingga hidup jadi lebih bernilai. Da’wah makin kenceng, semangat makin kuat, dan yang terpenting … nikah itu kado yang harus menjadi sangat bernilai buat orang tua. Nikah cepet atau nikah telat itu relatif dan ga menjamin kebahagiaan hidup. Tapi, proses menuju pernikahan yang barokah Insya Allah akan menghasilkan pernikahan yang barokah juga, yang ujungnya buat ngedapetin kebahagiaan hidup. Bener banget, niat nikah itu penting untuk dirumuskan maknanya waktu kita memutuskan akan berproses untuk menikah

· Restu orang tua = prasyarat nikah

Taushiyah ustad Zulfi waktu siang itu agak beda dari biasanya. “Yang paling penting dari sebuah pernikahan adalah restu kedua orang tua, karena ridha Allah ada di dalam ridha orang tua”. Jujur, waktu itu aku ga paham, tapi setelah kejadian tadi malem, aku jadi paham. Ga peduli calon kita ganteng, saleh, kerja mapan, dah punya rumah, atau apapun itu, tapi kalo ummi abi ga ngerestuin, yah sama aja boong. Yang ada kesiksa seumur idup.

Jadi inget kisah seorang temen yang ga direstuin waktu akan nikah. Dua tahun pertama dalam rumah tangga, semua berjalan adem ayem. Pertengkaran kecil bisa dikompromikan sampai usai. Tapi, di tahun ketiga mulai muncul pertengkaran hebat yang berujung pada perceraian, dan temenku itu harus bisa menerima fakta kalau dia dan istrinya harus bercerai di usia yang masih sangat muda, 21 tahun. Na’udzubillah. Walaupun boleh, tapi cerai itu dibenci ama Allah …

Dia sempet sharing penyebab dia cerai, dan percaya ga percaya …. salah satunya adalah karena orang tuanya ga ngerestuin waktu dia memutuskan untuk meminang gadis pujaannya itu. Alhasil, setelah berumah tangga, semuanya dijalanin tanpa memedulikan keadaan dan pertimbangan orang tua. Inget juga sebuah hadits … kira-kira matannya (baca : redaksinya) kaya gini : Semua dosa akan ditangguhkan balasannya sampai di akhirat kelak, kecuali satu dosa, yaitu dosa kepada orang tua yang balasannya akan diberikan di dunia. Masya Allah … bisa jadi dengan “melangkahi” orang tua, kita dah nyakitin perasaan mereka, dan langsung Allah bales di dunia …

Inget hadits itu, aku langsung mohon maaf dan mencium tangan ummi seusai ngobrol tentang rencana pernikahanku. Akhirnya aku sadar, selama si Imam belum didatangkan oleh Allah, ummi tetap jadi Imam dan “malaikat” yang harus dipatuhi dan paling diprioritaskan.

· Persiapan yang mantap

Sedikit ngulas kisah Ny. AKS, yang membunuh tiga orang anaknya karena stress dalam hal ekonomi. Beliau merasa tidak memiliki kehidupan ekonomi yang layak dan cukup untuk membiayai anak-anaknya sampai dewasa. Apalagi, penghasilan suami yang sangat pas-pasan (sekitar Rp1,5 juta per bulan) dan beliau yang tidak bekerja, membuat beliau semakin khawatir. Kekhawatiran yang terakumulasi itu yang akhirnya menggelapkan mata dan pikiran Ny. AKS. Padahal, waktu masih menjadi mahasiswi (alumnus ITB niy), beliau dikenal sebagai orang yang hanif dan dinilai cukup paham dalam agama.

Banyak ibrah yang bisa diambil dari kisah Ny.AKS. Terutama tentang pentingnya bersiap-siap dan membekali diri sebelum nikah. Bukan Cuma bekal materi, tapi juga bekal ruhiy atau mental, bekal ilmu, dan bekal jasad atau kesehatan badan. Termasuk bekel keterampilan khusus akhawat : masak, jait, beberes, nyetrika, nyuci, dll.

Tapi, muncul pertanyaan penting … SAMPAI KAPAN KITA TAHU BAHWA KITA SUDAH SIAP atau PERSIAPAN KITA SUDAH CUKUP UNTUK NIKAH ? Salah satu jawabannya ada di QS Al Baqarah : 286, bahwa Allah ga akan ngasih sesuatu ujian di luar kemampuan hambaNya; dan QS Al Buruj (juz 30) ayat terakhir, bahwa semuanya sudah diatur dalam Lauh Mahfuzh.

Jodoh itu urusan yang dah ditentuin bahkan semenjak ruh kita belum ditiupkan di dunia. Jodoh itu sesuatu yang dah pasti. Tapi tetep harus kita ikhtiarin, dan dengan bersiap-siap … itu adalah sebagai salah satu bentuk ikhtiar kita J. Kalau Allah memandang kita sudah siap, dia pasti akan datang dari arah yang tidak diduga, dan dalam waktu yang tidak dikira. So, prepare ur best …

· Kenali sang Imam

Nah, buat urusan ini, mending konsultasi ama teteh mentor atau murabbiyah masing-masing deh. Tapi, ilmu tentang mengenal dan memilih calon suami itu ilmu yang penting, so … harus dipelajari sebaik mungkin J. Beberapa rekomendasi buku yang bagus buat persiapan nikah : Di Jalan Da’wah Aku Menikah, Menjadi Istri dan Suami Shalihah, Cinta di Rumah Hasan Al Banna, Fiqh Munakahat.

Salah satu nasihat dari ummi : “Ade tuh harus kenal ama calon ade, ga cuma kelebihannya aja. Justru yang lebih penting adalah kenal ama kekurangannya dan kenal ama keluarganya. Bisa jadi, pernikahan ga bertahan awet karena ada kultur dua keluarga yang ga cocok”. Yup. That was her advice J.

Yah … siapapun dia, Insya Allah dia yang terbaik yang Allah pilihkan untukku. Jangan lupa, istikharah dari sekarang … minta dibimbing oleh Allah untuk ditunjukkan siapa jodoh kita sebenernya. Minta juga keluarga kita, terutama ummi dan abi, untuk ngelakuin hal yang sama.

Alhamdulillah, Allah menyadarkan aku saat ini … J. Aku punya beberapa azam untuk nyiapin pernikahanku … apa aja ?! This is my secret. Mohon do’anya aja.

Bumi Allah, 7 Syawal 1429 H / 7 Okt 2008

————–tika——————————-